Dampak Ketegangan Selat Hormuz, Beban Impor BBM Indonesia Terancam Membengkak

BI Tegaskan Aturan Pembayaran Tunai: Dilarang Menolak Rupiah!
/(ilustrasi/@pixabay)

Faktariau.id – Senin kelabu menghantam pasar keuangan domestik. Pada pagi hari Senin (13/4/2026), nilai tukar rupiah langsung terjun bebas ke level Rp17.124 per dolar AS. Pelemahan sebesar 0,12 persen ini menjadi sinyal merah bagi para pelaku usaha. Tekanan tidak berhenti di situ; menjelang siang, mata uang Garuda semakin terpuruk hingga menyentuh Rp17.130 akibat sentimen global yang sangat negatif.

Biang kerok pelemahan ini adalah kebuntuan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung maraton di Pakistan selama akhir pekan lalu. Tanpa adanya kesepakatan diplomatik, risiko keamanan di Selat Hormuz kembali meningkat drastis, yang secara langsung menekan mata uang negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Harga Minyak Dunia Melonjak, Emas Diprediksi “Terbang”

Pengamat pasar, Ibrahim Assuaibi, memperingatkan bahwa potensi penutupan jalur strategis Selat Hormuz telah memicu lonjakan harga minyak dunia. Jika ketegangan fisik benar-benar pecah di lapangan, investor dipastikan akan melarikan modal mereka ke aset aman (safe haven). Kondisi ini akan membuat harga emas dunia melonjak tajam, sementara rupiah akan semakin terbebani oleh pelarian modal asing (capital outflow).

Ketidakpastian ini memaksa Bank Indonesia dan otoritas terkait untuk memantau ketat pergerakan pasar. Lonjakan biaya impor energi akibat pelemahan rupiah dan kenaikan harga minyak dunia dikhawatirkan akan memberikan tekanan tambahan pada laju inflasi domestik di kuartal kedua tahun ini.

IHSG Ambruk Terseret Sentimen Timur Tengah

Efek domino dari ketegangan di Timur Tengah juga terasa kuat di Bursa Efek Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat ambruk 0,45 persen ke level 7.410 saat pembukaan perdagangan. Sentimen negatif ini memicu aksi jual masif di sektor perbankan dan manufaktur yang sangat sensitif terhadap fluktuasi nilai tukar.

Meski sempat ada upaya perlawanan untuk memangkas pelemahan ke level 7.452 pada pukul 09.50 WIB, pasar tetap diliputi kecemasan tinggi. Volatilitas yang ekstrem ini menunjukkan betapa sensitifnya ekonomi dalam negeri terhadap kegagalan diplomasi internasional, yang memaksa para investor lokal untuk tetap waspada dalam beberapa hari ke depan.

*(Drw)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *