Transparansi Tarif Solar Industri Terupdate: Cek Angka Fantastis Varian Diesel Primus Vivo

Stok LPG Sulawesi Utara Ditambah Jelang Natal 2025
/(Ilustrasi/@pixabay)

Faktariau.id — Perkembangan peta persaingan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di tanah air kini tengah menjadi sorotan tajam masyarakat luas. Hal ini terjadi menyusul langkah PT Pertamina Patra Niaga yang secara resmi memberlakukan penyesuaian harga berupa kenaikan tarif untuk dua produk BBM non-subsidi andalannya, yakni Pertamax dan Pertamax Green 95, terhitung mulai Rabu (10/6/2026).

Melalui kebijakan penyesuaian terbaru ini, harga Pertamax (RON 92) mengalami lonjakan signifikan dari posisi semula Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter. Pada saat yang sama, varian bensin ramah lingkungan Pertamax Green 95 (RON 95) juga ikut terkerek naik dari harga Rp12.900 per liter menjadi Rp17.000 per liter.

Sekretaris Perusahaan Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menyatakan bahwa pergeseran harga ini mengacu pada kalkulasi berkala terhadap komponen pembentuk harga energi global. “Penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan setelah melalui proses evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan pemerintah,” jelas Roberth dalam keterangan tertulisnya.

Roberth menambahkan, korporasi tetap menyelaraskan keputusan komersial ini dengan kebijakan makroekonomi nasional yang digariskan oleh pihak eksekutif di pemerintahan. “Harga jual tersebut diputuskan dengan tetap dikoordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator, dan menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan penyediaan energi dan distribusi BBM berkualitas bagi masyarakat terus berjalan optimal,” ujarnya. Pihak Pertamina juga memastikan seluruh rantai pasok bensin di jaringan pangkalan pengisian dalam kondisi aman terkendali.

Dinamika Kompetitor: Operator Swasta Kompak Tahan Skema Tarif Lama

Berbeda dengan langkah agresif Pertamina, sejumlah operator penyalur BBM swasta terkemuka di tanah air seperti Shell, BP-AKR, dan Vivo terpantau masih memilih menahan harga jual produk bensin mereka pada periode yang sama.

Jaringan SPBU Shell dan BP-AKR sebelumnya dilaporkan hanya merevisi nilai jual untuk kelompok produk diesel (solar) mereka di awal bulan Juni. Sementara itu, jaringan pengisian Vivo terpantau masih mengoperasikan skema tarif lama yang mengacu pada kebijakan per tanggal 1 Mei lalu. Kondisi komparatif tersebut menempatkan Pertamax dan Pertamax Green milik Pertamina sebagai varian bahan bakar yang mengalami fluktuasi harga paling mencolok di pasar domestik sepanjang pekan ini.

Rincian Harga Eceran BBM di Berbagai Operator SPBU (Per Juni 2026)

Berikut adalah daftar rincian harga eceran komoditas bahan bakar minyak per liter dari berbagai merek pengelola SPBU yang berlaku riil di lapangan:

1. PT Pertamina (Persero)

  • Pertalite (RON 90): Rp10.000

  • Solar Subsidi (Biosolar): Rp6.800

  • Pertamax (RON 92): Rp16.250

  • Pertamax Green 95 (RON 95): Rp17.000

  • Pertamax Turbo (RON 98): Rp20.750

  • Dexlite (CN 51): Rp23.000

  • Pertamina Dex (CN 53): Rp24.800

2. Shell International

  • Shell V-Power Diesel: Rp24.490

  • (Catatan Redaksi: Untuk varian bensin Shell Super, Shell V-Power, dan Shell V-Power Nitro+ dilaporkan belum tersedia kembali di gerai retail).

3. BP-AKR Petroleum

  • BP 92 (RON 92): Rp12.390

  • BP Ultimate (RON 95): Rp12.930

  • BP Ultimate Diesel: Rp26.060

4. Vivo Energy

  • Revvo 92 (RON 92): Rp12.390

  • Diesel Primus / Diesel Primus Plus (CN 51): Rp30.890

Perbedaan selisih harga bensin RON 92 yang cukup lebar antara Pertamina dengan operator swasta ini diprediksi akan mengubah peta preferensi konsumsi harian para pengendara di kawasan urban dalam beberapa waktu ke depan.

*(Drw)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *