Anomali Cuaca 2026: BNPB Beri Peringatan Serius Ancaman Karhutla di Kalimantan Barat dan Riau, Singkawang Mulai Terbakar

Vila di Puncak Kebakaran Saat Disewa WNA
Kebakaran/(illustrasi/@pixabay)

Faktariau.id, NASIONAL – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengeluarkan peringatan serius terkait anomali cuaca yang melanda Indonesia di awal tahun ini. Di saat Pulau Jawa tengah menghadapi puncak musim hujan, sejumlah wilayah di luar Jawa justru mulai dilanda kekeringan yang memicu ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyoroti dua provinsi yang kini masuk dalam zona merah pantauan: Riau dan Kalimantan Barat.

“Berbeda karakteristik di luar Pulau Jawa, karhutla di Provinsi Riau tercatat mencapai kurang lebih 566,8 hektare sejak awal tahun, sementara di Provinsi Kalimantan Barat terjadi penambahan luasan terbakar di Kota Singkawang,” ujar Abdul Muhari, Rabu (18/2/2026).

Ancaman Ekosistem Gambut

Pihak BNPB menekankan bahwa curah hujan yang minim di wilayah tersebut bukan sekadar soal cuaca panas biasa. Hal ini merupakan ancaman fatal bagi ekosistem gambut yang sangat rentan terbakar. Karakteristik lahan gambut membuatnya sulit dipadamkan jika api sudah merambat hingga ke bawah permukaan.

“Potensi bencana hidrometeorologi kering berupa kebakaran hutan dan lahan dapat meningkat akibat curah hujan rendah dan kondisi lahan gambut yang mudah terbakar,” tutur Muhari.

Langkah Preventif dan Penegakan Hukum

Untuk menekan risiko perluasan api, BNPB menekankan pentingnya langkah preventif segera, mulai dari patroli terpadu hingga pembasahan lahan (rewetting). Selain teknis pemadaman, instrumen hukum juga akan diperketat bagi oknum yang terbukti melakukan pembakaran secara sengaja.

“Penanganan dilakukan dengan pemadaman darat dan udara sesuai kebutuhan serta penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran,” sambung Muhari.

BNPB meminta pemerintah daerah di Kalimantan Barat untuk tidak lengah dan memastikan koordinasi lintas sektor, kesiapan personel, serta sarana prasarana evakuasi tetap dalam posisi siaga penuh. Koordinasi dan pendampingan dari pusat akan terus dilakukan guna memastikan respon darurat di daerah berjalan optimal.

(*Drw)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *