Harga BBM Nonsubsidi Pertamina dan Swasta Bersiap Menghadapi Formula Penyesuaian Baru

Stok LPG Sulawesi Utara Ditambah Jelang Natal 2025
/(Ilustrasi/@pixabay)

Faktariau.id — Angin segar berembus ke sektor konsumsi energi domestik. Dewan Ekonomi Nasional (DEN) mengungkap adanya peluang kuat dilakukannya penyesuaian turun terhadap harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi di dalam negeri. Langkah pelonggaran tarif ritel ini menyusul tercapainya konsensus perjanjian damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, di mana kedua belah pihak dijadwalkan akan menandatangani dokumen perdamaian resmi pada tanggal 19 Juni mendatang.

Anggota DEN, Firman Hidayat, mengisyaratkan bahwa pelonggaran harga jual BBM nonsubsidi harian merupakan konsekuensi logis dari ambruknya kurva harga minyak mentah dunia. Berdasarkan indikator pasar spot internasional, harga minyak mentah jenis Brent dilaporkan telah sukses terkoreksi jatuh hingga berada di bawah level US$80 per barel.

“Itu harusnya kayak harga solar yang untuk nonsubsidi, Pertamax, itu pelan-pelan bisa turun. Apalagi kalau crude-nya bisa di bawah US$80 gitu kan, otomatis pasti akan ada penyesuaian lagi,” ungkap Firman kepada awak media saat ditemui di kantor Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Rabu (17/6/2026).

Pemulihan Jalur Distribusi Selat Hormuz Dorong Surplus Pasokan Dunia

Firman meyakini bahwa penandatanganan perjanjian damai tersebut secara konsisten akan menahan laju harga minyak dunia agar tetap stabil bertahan di bawah level US$80 per barel. Terlebih, struktur ketahanan pasokan minyak mentah internasional saat ini dilaporkan sedang mengalami surplus kuota yang cukup masif di pasar global.

“Sebenarnya sebelum perang kondisi supply minyak di dunia itu sebenarnya sangat banyak, 3,8 juta barel per hari surplusnya sebelum perang gitu kan. Nah yang terjadi nih gangguan harga kenapa bisa menyentuh US$100 itu lebih karena kendala distribusi. Ketika masalah perangnya sudah selesai, distribusi Selat Hormuz-nya bisa lebih lancar. Nah supply ini kan akan masih tetap banyak,” urai Firman membedah analisis makro ekonomi energi.

Daftar Perbandingan Harga Ritel BBM Nonsubsidi Multi-Operator Saat Ini

Sebagai catatan risalah komoditas nasional, stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di seluruh Indonesia sebelumnya sempat kompak menaikkan grafik tarif produk BBM nonsubsidi mereka. Kebijakan penaikan tarif keekonomian tersebut dilakukan serentak oleh badan usaha (BU) milik negara maupun seluruh korporasi swasta akibat imbas ketegangan geopolitik bulan lalu.

Berikut adalah daftar banderol harga eceran BBM nonsubsidi berjalan yang berpotensi mengalami penurunan berkala dalam waktu dekat:

  • PT Pertamina (Persero): Produk Pertamax (RON 92) bertengger di angka Rp16.250 per liter dan varian Pertamax Green 95 (RON 95) berada di level Rp17.000 per liter.

  • SPBU Vivo: Mengunci harga jual untuk varian produk Revvo 95 pada angka Rp17.140 per liter.

  • SPBU BP-AKR: Menetapkan tarif operasional harian untuk produk BP 92 senilai Rp16.670 per liter serta varian tertinggi BP Ultimate sebesar Rp17.240 per liter.

Dengan adanya sinyal pemulihan jalur distribusi Selat Hormuz serta jaminan melimpahnya pasokan minyak mentah dunia, otoritas DEN memproyeksikan para emiten pengelola SPBU akan segera menghitung ulang formula harga keekonomian BBM nonsubsidi demi menjaga daya beli sektor transportasi nasional.

*(Drw)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *