Faktariau.id — Nilai tukar Rupiah yang terus terperosok hingga menyentuh angka Rp17.600 per Dolar AS memicu peringatan keras dari pakar ekonomi. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menegaskan bahwa depresiasi mata uang Garuda akan membawa efek domino yang mematikan hingga ke pelosok pedesaan.
Pernyataan ini merespons pandangan optimistis pemerintah sebelumnya yang menyebut warga desa tidak perlu risau dengan fluktuasi Dolar. Bhima secara terang-terangan menepis anggapan tersebut, mengingat keseharian warga di daerah sangat bergantung pada produk dengan komponen impor.
Dampak Nyata pada Petani dan Warga Desa
Menurut Bhima, masyarakat pedesaan amat lekat dengan barang-barang yang harganya dipengaruhi kurs global, antara lain:
Alat Pertanian & Pupuk: Bahan baku pupuk dan suku cadang alat pertanian akan melonjak, mencekik biaya produksi petani.
Teknologi & Elektronik: Harga telepon seluler, perangkat elektronik rumah tangga, dan kendaraan bermotor akan merangkak naik.
Kebutuhan Pokok: Kenaikan biaya logistik akibat pelemahan Rupiah perlahan akan menaikkan harga pangan di pasar lokal.
Ancaman Penurunan Daya Beli Akar Rumput
Bhima memprediksi bahwa hantaman terhadap roda ekonomi pedesaan hanyalah persoalan waktu. Jika Rupiah terus kalah saing, tingginya biaya hidup dipastikan memukul telak daya beli masyarakat di tingkat akar rumput.
Situasi finansial yang kian terjepit ini menuntut intervensi strategis dari pemangku kebijakan. Tanpa langkah cepat, tekanan harga akibat depresiasi Rupiah akan menjadi beban berat bagi pundak masyarakat desa yang selama ini dianggap jauh dari dinamika pasar valuta asing.
*(Drw)









