Ekonomi Indonesia Tumbuh Lima Koma Enam Puluh Satu Persen Kuartal Satu Dua Ribu Dua Puluh Enam

Realisasi Pajak 2025 Belum Capai Target Maksimal
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa/(instagram )

Faktariau.id — Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, memamerkan ketangguhan dan resiliensi perekonomian Indonesia di hadapan ratusan akademisi dan mahasiswa Nankai University, Tianjin, China. Purbaya menegaskan bahwa mesin pertumbuhan ekonomi domestik saat ini berada dalam kondisi prima serta tampil menonjol di tingkat global berkat pengelolaan instrumen fiskal yang pruden.

Di hadapan Rektor Nankai University, President Chen Yulu, Wakil Rektor Eksekutif Chen Jun, Wakil Rektor Sheng Bin, Profesor Xingmin Li, serta ratusan mahasiswa, Purbaya berharap dialog akademik ini mampu mempererat pertukaran gagasan serta memperkokoh hubungan bilateral antara Indonesia dan Tiongkok. Dalam paparannya, ia menekankan defisit anggaran Indonesia konsisten dijaga ketat di bawah amanat undang-undang sebesar 3%.

“Kehormatan besar bagi saya untuk berada di Nankai University. Hari ini, dengan sukacita saya membagikan perspektif Indonesia mengenai kebijakan ekonomi, manajemen fiskal, serta pembangunan nasional yang berkelanjutan,” ujar Purbaya dalam keterangannya, Minggu (21/6/2026).

Pertumbuhan PDB Kuartal I-2026 Ungguli Negara G20 dan ASEAN

Purbaya menjelaskan bahwa di tengah situasi pasar global yang mulai stabil seiring meredanya volatilitas, perekonomian domestik Indonesia justru tampil impresif. Hal ini dibuktikan dengan realisasi pertumbuhan ekonomi pada Kuartal I-2026 yang menembus angka 5,61 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), berada di atas rata-rata pertumbuhan negara-negara G20 dan kawasan ASEAN.

Kinerja mentereng ini ditopang oleh stabilitas harga yang sangat kuat di dalam negeri. Per Mei 2026, tingkat inflasi domestik tercatat berada di level yang sangat terkendali, yaitu 3,08 persen. Kombinasi pertumbuhan kokoh dan inflasi rendah ini mempertebal kepercayaan pasar global terhadap kredibilitas manajemen makroekonomi Indonesia.

Selain itu, posisi Indonesia sangat diuntungkan dalam menghadapi risiko gangguan energi global dengan skor ketahanan energi mencapai 77 persen, mengungguli China yang mencatatkan skor 76%. Seluruh indikator utama juga menunjukkan geliat ekspansif:

  • PMI Manufaktur: Berada di level ekspansif 50,0.

  • Likuiditas Perekonomian (M0): Tumbuh pesat 14,8 persen yoy.

  • Pertumbuhan Kredit Perbankan: Melesat hingga 11,5 persen yoy.

  • Surplus Neraca Perdagangan: Bertahan positif selama 72 bulan berturut-turut dengan cadangan devisa gemuk sebesar USD 144,9 miliar.

Rasio Pengangguran dan Kemiskinan Turun, Pemerintah Kebut 8 Program Kerja

Paling krusial, pertumbuhan ekonomi yang kokoh ini langsung ditranslasikan ke dalam peningkatan kesejahteraan riil masyarakat luas melalui perbaikan pasar tenaga kerja. Terjadinya penciptaan lapangan kerja baru bagi sekitar 1,9 juta orang berhasil menekan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun menjadi 4,68 persen pada tahun 2026.

Di sisi lain, efektivitas jaring pengaman sosial berhasil menurunkan tingkat kemiskinan secara konsisten, dari 8,57% pada September 2024 menjadi 8,25 persen pada September 2025. Untuk melanjutkan tren positif ini, Indonesia kini memiliki 8 kluster program kerja prioritas nasional.

“Prioritas tersebut mencakup fondasi ketahanan nasional: kedaulatan pangan, kemandirian energi dan air, pendidikan, kesehatan, serta infrastruktur, perumahan, dan ketangguhan bencana,” jelas Purbaya.

Pemerintah juga terus mempercepat transformasi struktural melalui hilirisasi industrialisasi, penguatan ekonomi kerakyatan, pembangunan pedesaan, hingga penguatan sektor pertahanan, keamanan, digitalisasi, dan diplomasi ekonomi untuk memastikan pembangunan nasional bersifat inklusif serta tangguh.

*(Drw)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *