Faktariau.id – Setiap tahun, pemerintah konsisten menyuarakan keyakinan bahwa APBN cukup tangguh menghadapi gejolak global. Narasi ini biasanya diperkuat dengan data fundamental ekonomi yang kokoh dan disiplin fiskal yang terjaga. Namun, di balik klaim tersebut, terdapat satu komponen krusial yang sering luput dari perhatian publik: asumsi harga minyak atau Indonesian Crude Price (ICP).
ICP bukan sekadar parameter makro dalam penyusunan anggaran. Dalam praktiknya, angka ini memegang kendali besar terhadap stabilitas fiskal. Ketika realitas pasar meleset jauh dari asumsi, efek domino akan menjalar ke subsidi energi, defisit anggaran, hingga pemangkasan ruang belanja negara.
Optimisme yang Berisiko di Pasar Volatil
Masalah utama muncul ketika asumsi harga minyak dalam APBN terlihat terlalu optimis di tengah kondisi geopolitik yang tidak menentu. Konflik di Timur Tengah dan ketegangan di Teluk Persia dapat mengubah peta harga minyak dunia dalam sekejap, membuat model proyeksi ekonomi sering kali tertinggal dari realitas lapangan.
Ketika asumsi ICP ditetapkan terlalu rendah, tekanan fiskal sebenarnya tidak hilang, melainkan hanya tertunda. Saat harga minyak global melonjak, selisih harga tersebut harus ditanggung negara melalui subsidi dan kompensasi energi yang membengkak. APBN yang terlihat stabil di awal tahun pun berisiko berubah menjadi rapuh.
Ketergantungan Struktural pada Impor Energi
Kerentanan fiskal Indonesia semakin diperparah oleh kondisi struktural energi domestik. Produksi minyak nasional terus menurun di saat kebutuhan energi terus meroket. Akibatnya, Indonesia terjebak dalam ketergantungan impor minyak mentah dan produk BBM dalam jumlah besar.
Setiap lonjakan harga minyak dunia hampir pasti meningkatkan beban APBN. Ketangguhan fiskal seharusnya tidak diukur dari seberapa optimis asumsi yang digunakan, melainkan dari seberapa siap negara menghadapi skenario terburuk. Tanpa pendekatan yang lebih realistis terhadap risiko energi global, klaim ketangguhan APBN dikhawatirkan hanya akan menjadi ilusi stabilitas yang sulit dikendalikan di masa depan.
(*Drw)













